Minggu, 29 Juli 2012

Berlapis Batu



Merah biru mengukir kisah
Kuning hijau merajut mimpi
Senja kini beranjak menyerbu
Gulita tak lagi menghempas

Sekelebat hitam membuai jiwa
Tikus uang pelahap harta
Kebutaan akan transparansi
Sebagai aksi tuk berkilah

Hanya sekedar seperempat suap
Segumpal putih sana dan sini
Merebak kasih pengganjal perut
Segelintir saja pun tak ada

Kini bayang apa yang dinati
Benang merah tak berujung
Menyeruak batin sang pemirsa
Namun tetap batu melapis jiwa

Poem's created by Adzka Fahma Rodliya

Kamis, 19 Juli 2012

Behind The Eyes



Mata itu terbuka perlahan. Beberapa orang mengerumuninya dengan perasaan cemas. Beberapa diantaranya bahkan tak sanggup meneteskan air mata. Dan mata itupun akhirnya terbuka. Pemilik mata itu adalah Dino.
            “Astaga!” Akhirnya Dino mendesis penuh kekaguman.
            Dan beberapa orang langsung tersadar. Seorang gadis kecil berjalan menghampiri Dino dengan penuh harap. Adik semata wayang Dino itupun duduk dihadapan Dino. Mengamati wajah tampan sang kakak.
            Kedua tangan dino menyentuh wajah Thea, gadis kecil tersebut, kemudian membelainya.
            “Thea, kakak....kakak bisa melihatmu”serunya, nyaris memekik.
            Semua orang di ruangan itupun ikut terharu. Sebuah kelegaan setelah operasi transplantasi kornea itu berjalan dengan lancar tak lebih dari dua jam.
            “Sekarang ini masih sangat buram. Tapi pasti akan membaik dalam beberapa hari ini. Sekarang, yang perlu kita kuatirkan cuma reaksi penolakan mata Dino terhadap donor yang diterimanya. Tapi saya sudah memberikan obat-obatan pencegah yang mudah-mudahan bermanfaat. Tinggal dipakai secara rutin saja,” jelas Dokter panjang lebar.
            Dokter itu kemudian menghampiri Dino. Lalu memakaikan pelindung mata yang sedikit mirip kacamata renang. “Nah, Dino. Jangan sampai kena air. Jangan sampai kena benda apapun. Pakai selalu google ini selama paling tidak dua minggu kedepan.”
            Sambil mengangguk mantap, Dino menatap Dokter itu penuh terima kasih. Dalam hati Dino, sebuah bara api menyala. Bara api yang selama ini terpendam dalam kebutaan Dino terhadap seseorang yang telah membuat Ia kehilangan sepasang matanya itu.
***
            “Kakaaaaaaaaak... sudah kubilang jangan kemana-mana. Mata kakak kan belum sembuh benar. Lah ini langsung minta pergi ke Jakarta. Thea kan juga masih sekolah.” Cerca Thea yang terus membuntuti kakaknya yang sama sekali tidak mendengarkannya itu.
            Dino pun langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap adiknya itu kesal. “Aku kan tidak memintamu mengantarku. Lagi pula mataku juga sudah sembuh, aku sudah tidak memakai pelindung mata itu. Dokter juga bilang  mataku sudah pulih benar. Kamu ini cerewet sekali. Sana kamu pulang saja, nanti biar aku telponkan tante Neni.” Kata Dino seraya melanjutkan langkahnya. Kali ini Ia benar-benar mantap.
            Thea hanya terdiam di tempatnya. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya terhadap kakaknya itu. Ia sangat tahu sifat keras kepala kakaknya. Tentu tidaklah mudah menghentikan niat kakaknya selain... selain... tiba-tiba Thea teringat sesuatu. Ia bisa menebak kemana kakanya itu akan pergi.
            “Apa kakak akan menemui kak Rendhi ? Apa kakak akan melakukan sesuatu terhadapnya ?” tanya Thea hati-hati.
            Dino kembali menghentikan langkahnya. Mendengar nama musuh bebuyutannya itu disebut hatinya terasa sangat marah. Sebisa mungkin Ia menahan amarahnya iu di depan adiknya. Kemudian Ia membaliknya badannya.
            “Tidak. Aku sama sekali tidak terpikirkan untuk menemuinya. Aku akan pergi menemui pelatih Nando, hey adik kecil !” Jawab Dino enteng. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Ia akan pergi menemui Rendhi.
            “Apa kakak akan bermain bola lagi?” Tanya Thea girang. Harapan yang selama ini dinantikannya mungkin akan terwujud.
            Dino hanya mengangguk kemudian langsung pergi meninggalkan Thea. Ia langsung menaiki taksi yang sudah menantinya di depan hotel. Kali ini Thea benar-benar merelakan kakanya pergi karena alasan yang diberikan adalah harapan yang selama ini dinantinya dan seluruh keluarganya.
            Sementara itu, di dalam taksi Dino terus merasa cemas. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ia memang akan meniti karirnya lagi menjadi pesepak bola profesional seperti sebelumnya. Namun kembali bayangan Rendhi muncul di hadapannya sebagai rekan satu tim. Kebencian akan orang yang telah merenggut kedua matanya serta memporak-porandakan karirnya itu, serta kebencian karena telah membuat ibunya yang rela mati demi mengorbankan sepasang mata untuknya. Hatinya kembali teremas-remas oleh amarahnya. Ia menghela nafas panjang. Ia tak boleh terbawa emosi. Setelah uji coba untuk kembali masuk ke klub selesai, mungkin ia akan menyelesaikan masalahnya dengan Rendhi yang tak pernah datang menemuinya bahkan untuk sekedar minta maaf.
            Setelah beberapa lama, taksi itu sampai di tujuan. Dino segera turun. Ia menatap bangunan besar di hadapannya. Tempat dimana dulu Ia meniti karirnya bersama tim kesebelasannya sebelum Ia kehilangan sepasang matanya. Dengan mantap, Ia masuk ke bangunan tersebut.
***
            Sebuah peluit panjang berbunyi. Dan seorang laki-laki jakung itu langsung memulai untuk mengoper bola. Di atas lapangan hijau itu, beberapa orang mengerumuninya untuk melihat aksi yang dulunya pahlawan sepak bola. Beberapa bola berhasil menjebol gawang berkat laki-laki tersebut. Ya, laki-laki itu tak lain adalah Dino. Kembali sebuah peluit panjang mengakhiri laga uji coba tersebut. Seorang pelatih menghampiri Dino sambil bertepuk tangan. Wajahnya sangat sumringah melihat penampilan Dino.
            “Ckckck, hebat sekali permainanmu Dino. Sama sekali tidak berkurang dengan sebelumnya. Bahkan kulihat ada banyak sekali peningkatan. Sulit dibayangkan bahwa kamu dulu pernah kehilangan matamu. Luar biasa.” Salut pelatih bernama Nando. Kemudian ia duduk di atas lapangan disamping Dino.
            Dino hanya tersenyum ringan. Kemudian ia meneguk air mineral hingga habis.Ia tahu benar yang telah membuat penampilannya tadi gemilang bukanlah semata wayang akan dirinya, tetapi adalah semangatnya.
            Setelah berbicara panjang dengan pelatih melepas kerinduan setelah beberapa tahun tidak bertemu, Dino pamit untuk pergi ke asrama pemain bola. Ada seseorang yang ingin Ia temui.
            Sesampainya di asrama, Ia sengaja memakai kacamata hitam yang dulu sering digunakannya. Ia bahkan memakai tongkat. Ia berjalan dengan santainya mengitari ruangan tersbut. Ada sedikit kerinduan di hatinya. Hingga pada suatu koridor, ia bertemu dengan segerombolan orang. Ia tahu benar siapa mereka. Ya, itu adalah teman-temannya ! Ia berhenti sejenak dan mengetok-ngetok tongkatnya ke lantai. Mereka langsung menyadari kehadiran Dino.
            “Dinooooo!!!!!” seru mereka nyaris bersamaan. Beberapa diantara mereka bahkan langsung memeluk Dino. Beberapa pertanyaan langsung mencerca Dino dari teman-temannya itu. Dino hanya menjawab sekenanya. Ia mencari-cari sosok Rendhi. Dan akhirnya Ia melihatnya disudut koridor hanya terdiam. Wajahnya pucat. Beberapa saat kemudian, Rendhi pergi meninggalkan teman-temannya termasuk Dino. Ia pergi tanpa mengatakan apapun. Dibenaknya, Ia masih mengira bahwa Dino buta.
            Melihat Rendhi yang pergi dan melintasinya, Dino langsung melepaskan pelukan teman-temannya.
            “Begitu melihat teman yang 2 tahun tidak kau temui, apakah itu perlakuanmu? Setelah 2 tahun kehilangan mataku, apa kau pikir aku akan diam saja ?” tanya Dino sambil menoleh dan membalikkan badan menghadap Rendhi.
            Rendhi langsung menghentikan langkahnya. Teman-teman yang mendengarnyapun tersentak. Seketika ruangan langsung hening. Perlahan, dino melepas kacamata dan melipat tongkatnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke teman-temannya, termasuk Rendhi. Kemudian Ia tersenyum.
            “Ya, aku sudah mendapatkan donor kornea dari ibuku sendiri yang beberapa bulan lalu meninggal dunia. Aku bahkan sudah melakukan ujicoba tadi dengan pelatih Nando. Dan hasilnya... aku kembali bergabung dengan tim” jelas Dino.
            Serentak temannya mengucap selamat kepada Dino, kebahagiaan akan kembalinya sang pahlawan. Sementara itu, Dino kembali menatap Rendhi. Rendhi masih terdiam dan menunduk. Wajahnya bahkan semakin pucat. Melihatnya, Dino langsung meminta teman-temannya untuk membiarkan dirinya dan Rendhi untuk berbicara berdua. Teman-temannya itupun langsung meninggalkan mereka berdua. Paham.
            Dino berjalan selangkah menghampiri Rendhi. Ia menahan perasaannya. Rendhi masih menunduk.
“Ma maafkan aku Din, sungguh aku minta maaf.. aku.. aku...” kata Rendhi terbata-bata. Tak terasa air mata meleleh dari sudut matanya.
            Dino menghela nafas, kemudian menjawab, “Setelah menghilangkan penglihatanku, setelah membuat ibuku mengorbankan nyawanya hanya demi aku, setelah membuat karirku hancur begitu saja, kau bahkan masih berpikir aku aku memaafkanmu ?!” seru Dino dengan suara tertahan. Sebisa mungkin Ia tidak meluapkan emosinya untuk memukul Rendhi.
            Rendhi terdiam. Ia mengangkat kepalanya. Air mata semakin deras. Ada kebingungan di wajahnya.
            “Apa ibumu ..” tanya Rendhi tak sanggup mengataknnya.
            Dino hanya tersenyum sinis. Batinnya semakin terkoyak. “Ya! Tapi apa yang kau lakukan sampai saat ini, Ha ?! Dengar baik-baik ya.Posisimu sebagai striker terbaik disini aku kurebut. Dan apa kau tahu, pertandingan melawan Thailand nanti, pelatih telah memintaku untuk menjadi kapten ! Sama sekali bukan kau ! Apa kau tahu apa artinya itu ? Semua kesuksesan yang kau raih diatas penderitaanku itu sedikit demi sedikit akan kuhancurkan !” Kata Dino dengan suara dikuat-kuatkan. Kemudian, Dino langsung meninggalkan Rendhi sendiri. Di ruangan itu sendiri, dengan perasaan hancur lebur.
***
            Seperti apa yang dikatakan Dino, petaka itu benar-benar datang kepada Rendhi ! Posisi terdepan striker kini dipegang oleh Dino. Dan bukan hanya itu, selama beberapa pertandingan, Rendhi yang biasanya paling banyak mencetak gol, kini sama sekali tidak menghasilkannya. Setiap bola yang digiring oleh Rendhi dengan mudahnya direbut oleh Dino. Rendhi yang selama ini digandrungi oleh teman-temannya pun kini satu persatu beralih ke Dino. Berbagai infotaiment pun mengbarkan kegemilangan Rendhi yang selama ini Ia capai telah jatuh ke tangan Dino, pemain yang dulu berjaya.
            Mau tak mau, berita itupun terdengar ke pelatih Nando. Ia dapat mencium bau permusuhan antara Dino dan Rendhi. Pagi itu juga, Ia langsung memanggil Dino keruangannya.
            “Mengapa kamu melakukan ini terhadap Rendhi ? Kenapa kamu tidak mau mengoper bola sekalipun kepadanya ? kenapa kau tidak pernah memberikannya kesempatan untuk menggiring bola? Kamu pikir pertandingan itu milikmu?” Cerca Pelatih Nando dengan sengit. Ia tidak mengharapkan ada permusuhan di klub asuhannya itu.
            “Tidak ada. Sama sekali tidak ada yang terjadi dengan kami. Aku hanya memberikannya sedikit pelajaran kepadanya.” Jawab Dino enteng.
            Pelatih Nando menghela nafas panjang. Sangatlah susah memadamkan dendam yang sudah membatu selama 2 tahun itu. “Itu adalah kecelakaan Dino.Bagaimana pun Rendhi tidak bersalah meskipun Ia yang menggoncengkanmu. Bukankah polisi juga mengatakan itu adalah kecelakaan?” Pelatih Nando sebisa mungkin memberikan penjelasan.
            “Kecelakaan kata bapak? Jika saja waktu itu Rendhi tidak memaksaku untuk pergi, aku tidak akan kehilangan sepasang mataku. Ibuku juga tidak akan kehilangan nyawanya demi aku !” Bentak Dino. Amarah di hatinya tak tertahankan.
            Pelatih Nando kembali menghela nafas. Kali ini, ia akan mengatakan sebenar-benarnya.
“Apa kau tahu, 2 tahun lalu Rendhi berusahan akan bunuh diri? Apa kau tahu betapa putus asanya Rendhi begitu mendengar kamu kehilangan penglihatan? Ia berusaha meyakinkanku untuk tidak mengeluarkanmu dari tim. Ia rela keluar dari tim jika itu akan membuatmu puas. Tapi kenyataannya, dia tidak bisa keluar begitu saja, karena waktu itu dia adalah tulang punggung keluarganya. Ayahnya yang sakit-sakitan dan Ibunya yang telah meninggal dunia, dan ketiga adiknya yang masih harus bersekolah, apa kau tidak tahu itu?” Jelas Pelatih Nando.
Dino hanya terdiam. Tak disangka ada sebuah kenyataan dibalik semua.
“Tapi, setidaknya ia meminta maaf kepadaku? Setidaknya dia memohon kepada ibuku untuk tidak melakukan semua ini!” Sengit Dino.
Pelatih Nando menatap Dino dalam. Ia tahu bahwa selama ini Dino hanya menelan api kesalah pahaman. “Dia sudah melakukannya. Berkali-kali. Tapi Ibumu tidak pernah mengijinkannya. Ibumu tahu apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengannya. Dan juga... Ibumu tidak meninggal dengan mengorbankan nyawanya begitu saja, dia meninggal karena penyakit Dino..” lirih Pelatih Nando.
“Ibu sakit juga karena dirinya! Ibu sakit karena tidak kuat melihat penderitaanku!” pekik Dino.
“Anakku, kamu tidak boleh menyalahkan takdir hanya karena perasaan dendam. Aku tahu benar bagaimana penderitaanmu atas kehilangan sepasang mata dan ibumu. Tapi kau harus tahu, kau tidak boleh menyalahkan Rendhi. Jika kau menyalahkan oranglain atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka tak ada bedanya kau ini dengan pecundang”
“Dengar baik-baik. Mulai sekarang, aku tidak ingin mendengar kalian berdua bermusuhan. Kau juga tidak boleh egois terhadapnya. Jika saja waktu itu kau mau bekerja sama dengan Rendhi, mungkin kalian berdua akan menjadi mesin pencetak gol sepanjang masa. Lagi pula, ini bukanlah permainanmu. Ini adalah permainan kita semua. Kita bermain bukan untuk mendapat ketenaran. Kita bermain untuk Sang Garuda. Bagaimanpun perasaanmu terhadap seseorang, kau tidak boleh menyangkutkan itu dalam sepak bola” Jelas Pelatih Nando panjang lebar.
Dino hanya terdiam. Dalam hatinya gerimis perlahan menyirami api dendam yang selama ini menyala. Dari lubuk hatinya, ia juga tidak ingin mencari musuh dengan teman-temannya. Kali ini ia sadar. Setetes demi setetes air mata meleleh dari sudut matanya. Benar, Ia telah mempermalukan nama Garuda demi kebencian di hatinya.
            Ia berjanji dalam hati. Ia akan meminta maaf kepada semuanya. Ibunya, teman-temannya, Rendhi, dan yang paling penting, Sang Garuda.



Cerpen tema nasionalisme *tugas MOS* hehe

Selasa, 03 Juli 2012

Reason Why...


Profesor: Anda adalah seorang Muslim, bukan, Nak?

Siswa: Ya, Pak.

Prof: Jadi, Anda percaya pada ALLAH?

...
Siswa: Tentu saja, Pak.

Prof: Apakah Tuhan baik?

Siswa: Tentu.

Prof: Apakah Tuhan mahakuasa?

Siswa: Ya.

Prof: Saudaraku meninggal karena kanker meskipun dia berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Kebanyakan dari kita akan mencoba untuk membantu orang lain yang sakit. Tapi Tuhan tidak. Bagaimana Tuhan ini baik itu? Hmm?

(Mahasiswa diam.)

Profesor: Anda tidak dapat menjawab, bukan? Mari kita mulai lagi, anak muda. Apakah Tuhan baik?

Siswa: Ya.

Prof: Apakah setan baik?

Siswa: Tidak.

Prof: mana setan berasal?

Siswa: Dari ... Tuhan ...

Prof: Itu benar. Katakan padaku anak, apakah ada kejahatan di dunia ini?

Siswa: Ya.

Prof: Kejahatan di mana-mana, bukan? Dan ALLAH memang membuat segalanya. Benar?

Siswa: Ya.

Prof: Jadi siapa yang menciptakan kejahatan?

(Siswa tidak menjawab.)

Prof: Apakah ada penyakit? Imoralitas? Kebencian? Keburukan? Semua hal yang mengerikan ada di dunia, bukan?

Siswa: Ya, Pak.

Prof: Jadi, siapa yang menciptakan mereka?

(Mahasiswa tidak memiliki jawaban.)

Prof: Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Anda memiliki 5 Senses Anda gunakan untuk mengidentifikasi dan mengamati dunia di sekitar Anda. Katakan padaku, anak, apakah Anda pernah melihat ALLAH?

Siswa: Tidak, Pak.

Profesor: Beritahu kami jika Anda pernah mendengar Tuhan mu?

Siswa: Tidak, Pak.

Prof: Apakah Anda pernah merasa Tuhan mu, mencicipi Tuhan mu, mencium Tuhan mu? Apakah Anda pernah memiliki persepsi indrawi Tuhan dalam hal ini?

Siswa: Tidak, Pak. Sayangnya aku belum.

Profesor: Namun Anda masih percaya kepadaNya?

Siswa: Ya.

Prof: Menurut empiris, Protokol yang dapat didemonstrasikan, sains menyatakan bahwa Tuhanmu tidak ada. Apa yang Anda katakan itu, nak?

Siswa: Tidak ada. Saya hanya memiliki iman saya.

Prof: Ya, iman. Dan itu adalah masalah Ilmu memiliki.

Siswa: Professor, apakah ada yang namanya panas?

Prof: Ya.

Siswa: Dan apakah ada yang namanya dingin?

Prof: Ya.

Siswa: Tidak, Pak. Tidak ada.

(Teater kuliah menjadi sangat tenang dengan keadaan ini.)

Siswa: Pak, Anda dapat memiliki banyak panas, bahkan lebih panas, sangat panas, begitu panas, panas putih, sedikit panas atau tidak panas. Tapi kita tidak memiliki sesuatu yang disebut dingin. Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol yang tidak panas, tetapi kita tidak bisa pergi lebih jauh setelah itu. Tidak ada yang namanya dingin. Dingin hanyalah SEBUAH KATA yang kita gunakan untuk mendeskripsikan ketiadaan panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah kebalikan dari panas, Pak, hanya tidak adanya itu.

(Ada pin-drop keheningan di ruang kuliah.)

Siswa: Bagaimana dengan kegelapan prof? Apakah ada yang namanya kegelapan?

Prof: Ya. Apakah malam itu jika tidak ada kegelapan?

Siswa: Anda salah lagi, Pak. Kegelapan adalah tidak adanya sesuatu. Anda dapat memiliki cahaya rendah, cahaya normal, cahaya terang, cahaya berkedip. Tapi jika Anda memiliki cahaya tidak terus-menerus, Anda memiliki apa-apa dan kegelapan disebut nya, bukan? Pada kenyataannya, kegelapan tidak. Jika ya, kau akan mampu membuat lebih gelap kegelapan, bukan?

Prof: Jadi apa gunanya Anda membuat, anak muda?

Siswa: Pak, poin saya adalah premis filosofis Anda adalah cacat.

Prof: yang cacat? Bisakah Anda menjelaskan bagaimana?

Siswa: Pak, Anda bekerja pada premis dualitas. Anda berpendapat ada kehidupan dan kemudian ada kematian, Tuhan yang baik dan Tuhan jahat. Anda melihat konsep Tuhan sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat diukur. pak, bahkan ilmu pengetahuan tidak bisa menjelaskan pikiran. Itu menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah melihat, apalagi sepenuhnya dipahami baik satu. Untuk melihat kematian sebagai lawan kehidupan adalah pengabaian fakta bahwa kematian tidak dapat eksis sebagai hal yang substantif.

Kematian bukanlah lawan dari kehidupan: hanya tidak adanya itu. Sekarang katakan, Profesor, apakah anda mengajar mahasiswa bahwa mereka berevolusi dari kera?

Prof: Jika anda mengacu pada proses evolusi alami, ya, tentu saja, saya lakukan.

Siswa: Apakah Anda pernah mengamati evolusi dengan mata anda sendiri, Pak?

(Profesor menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, mulai menyadari di mana argumen yang terjadi.)

Siswa: Karena tidak seorang pun pernah mengamati berlangsungnya proses evolusi dan bahkan tidak dapat membuktikan proses ini sebagai upaya-going. Bukankah anda sedang mengajarkan opini anda, pak? Apakah anda bukan ilmuwan tapi pengkhotbah?

(Kelas itu gempar.)

Siswa: Apakah ada orang di kelas ini yang pernah melihat otak Profesor?

(Kelas pecah menjadi tawa.)

Siswa: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tidak seorang pun telah melakukannya. Jadi, menurut Peraturan mapan empiris, Protokol Stabil, didemonstrasikan, sains mengatakan bahwa Anda tidak memiliki otak, pak. Dengan segala hormat, Pak, bagaimana kita kemudian percaya kuliah Anda, Pak?

(Ruangan itu hening Profesor menatap siswa, wajahnya tak terduga..)

Profesor: Saya kira Anda harus membawa mereka pada iman, Nak.

Siswa: Itu itu Sir ... Tepat! Hubungan antara manusia & Tuhan adalah KEYAKINAN. Itu saja yang membuat hal hidup dan bergerak.

P.S.

Saya percaya Anda telah menikmati percakapan. Dan jika demikian, Anda mungkin ingin teman / kolega untuk menikmati yang sama, bukan?

Minggu, 10 Juni 2012

Across The Sea

Swim never drawned
Dive never floated
Don't try but force
Cause it emerges for not the trivial one
Cause it's occured for not the question


In a hurry in a mess
Never know across the sea
Mind just think about treasure
Mind just think about sparkling gold


A cross the sea is not the destination
A way to sea is the golden one
The gold behind the hard work
For not being idle.


Friday, May 18th 2012
11.04 am
SMAN 1 Surakarta's mosque

Selasa, 15 Mei 2012

F A M I L Y (my poem)


Iseng2 buat puisi ahaha, just enjoys guys !
F  : Friends for along life

A  : Amazing for standing beside you

M : Miss it when you dissapear

I   : It's awesome for having you with me

L  : Live is ouch without you

Y  : Yes, you're the best thing that I ever had !

*WATCH OUT ! I'm the creator of this poem, so don't try to 'copas' it without my permission !*

Sabtu, 03 Desember 2011

Setetes Embun di Hati Niluh


Sebuah patung tinggi besar berdiri kokoh seolah tak peduli tercabik-cabik ganasnya mentari. Gumpalan asap kendaraan menambah nyanyian khas tengah kota. Beberapa kendaraan yang keras kepala pun ikut memadati dan menciptakan bunyi sumbang di udara. Aroma kota tengah hari bagaikan neraka versi tangan manusia. Kembali kubenahi letak topiku. Keringat sebesar biji jagung tak henti-hentinya mengucur di permukaan tubuhku. Beberapa lembar tisu tak sanggup menyeka keringat yang semakin membanjir di tubuhku. Aku tak peduli.
            Kembali kuabadikan sonata kota Solo yang membara. Rumah-rumah kumuh tak luput dari jepretan kameraku. Gedung-gedung bergaya aristokat nan kapitalis sedikit kuabaikan. Di tanah kelahiranku bangunan seperti itu sudah biasa menjejali setiap kawasan pariwisata, Ya sebut saja Pulau Dewata. Hanya bedanya tak ada bangunan yang melebihi tempat peribadatan Pure, demi suatu penghormatan kami.
            Untuk kesekian kalinya kameraku tak henti-hentinya membidikkan sasaran gambar. Kini, kuedarkan pandangan di sekitarku. Rasanya telah cukup memadati memori klis kameraku. Kurebahkan tubuh penatku di sebuah tangga di pinggir jalan. Lelah sekali rasanya sejak tadi berkonsentrasi mengambil gambar. Kurenggangkan jemariku. Sejak tadi ia menari-nari di atas tombol pengambil gambar.
            Sesosok bocah kecil berpakaian lusuh menarik perhatianku. Sebuah kaleng peot dikalungkan di lehernya. Beberapa orang yang melintas di hadapannya memasukkan uang receh ke dalamnya. Suatu pemandangan ganjil yang jarang kutemui di Bali meski tidak sulit menemui pengemis di kotaku, namun setidaknya di Bali masih sedikit ‘layak’ dalam parameter status sosial. Kubiarkan ia berjalan ke arahku. Aku ingin melakukan hal yang sama terhadapnya dan memberinya sedikit pertanyaan. Namun belum sempat ia menghampiriku, tiba-tiba seseorang menariknya. Seorang gadis berjilbab menarik lengannya dan memelototinya. Aku tersentak. Gadis itu memarahi bocah kecil pengemis tersebut. Yang membuatku heran adalah siapa sosok gadis itu. Penampilannya jauh berbeda dengan bocah pengemis yang lusuh. Gadis itu bahkan mengenakan busana yang kupikir termasuk kalangan atas. Sesaat kupikir ia bermaksud melarang bocah itu mengemis di area perbelanjaan ini. Tapi apa hak nya ? Begitu pula dengan orang-orang di sekita sini. Tak ada yang menghiraukan mereka beradu mulut. Hal itu mendorong diriku menghampiri mereka.
            “Bukankah sudah kubilang jangan pernah melakukan hal memalukan ini lagi?” Tanya gadis berjilbab tersebut begitu aku mendekat. Bocah tersebut hanya diam menunduk, membuatku semakin ingin membelanya.
            “Hey, apa-apaan kau ! Sudah merasa lebih hebat dari bocah ini hah ?! Jangan berlagak ya nona. Mentang-mentang kau lebih mampu darinya lantas kau menghinanya ? Dia bahkan lebih baik dari pada parasit sepeti kau yang bisanya merengek ke orang tuamu ! cepat lepaskan dia, hey kurang ajar !” Bentakku pada gadis berjilbab itu.
            Baik gadis berjilbab itu maupun bocah tersebut malah menatapku heran dan mengerutkan kening. Kupikir bocah itu akan memihakku, namun justru sebaliknya. Ia semakin ketakutan.
            “Maaf, kamu ini siapa ? Kami tidak punya urusan denganmu ya, nona” Tanya gadis itu tak mengacuhkanku.
            “Ya memang aku tak punya urusan dengan mu. Tapi jika kau berani melarangnya mencari uang di sini, itu termasuk urusanku” Jawabku tak mau kalah.
            Gadis itu nampak semakin heran melihatku, mungkin saja baru pertama kali ada orang yang menentangnya sepertiku.
            “Maaf ya mbak, tapi ini memang tanggung jawab saya melarangnya melakukan hal memalukan ini mbak” Ujar gadis itu semakin membuatku kesal.
            “Kau pikir, kau yang punya tempat ini sehingga merasa punya hak melarangnya?” Tanyaku sengit.
            Beberapa orang tadinya tak menghiraukan kami kini malah mengerumuni kami. Aku merasa di atas angin. Kalau begini kan jelas siapa yang salah.
            Gadis itu tersenyum lembut, suaranya melunak “Maaf ya kalau Mbak salah sangka. Tapi yang jelas saya bukan maksud apa-apa. Saya ini cuman melaksanakan kewajiban saya. Adik ini, sayalah yang merawatnya. Saya juga yang bertanggung jawab terhadapnya. Jadi jika yang ia lakukan tadi adalah kesalahan, maka saya wajib mengingatkan sebagai bentuk tanggung jawab saya, sekaligus yang merawat Adik ini” Penjelasannya yang tutur perlahan membuka arah pikiranku yang tadi memanas. Amarah yang tadi berkobar-kobar berganti menjadi rasa malu yang amat sangat. Orang-orang yang baru berkerumun langsung mengerti begitu mendengar penjelasan gadis berjilbab itu.
            Aku hanya terdiam malu.Sungguh rasanya benar-benar bodoh. Kulemparkan senyum masam padanya. Nampaknya gadis itu pun mengerti. Ia bahkan menjulurkan tangannya dan menyalamiku. Wajah putih bersihnya memberi senyum pengertian kepada kami semua.
            Kerumunan perlahan bubar. Aku merasa tidak enak ikut meninggalkan merekatanpa pamit begitu saja, apalagi kepada gadis tersebut.            Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Faras. Rupanya memang seorang aktivis jalanan. Walau sebenarnya ia tak bergabung dalam LSM mana pun, namun ia sering membantu para anak-anak gelandangan, pengamen, pengemis. Suatu hal yang tak pernah kukenal sebelumnya dalam kehidupan pergaulanku yang selama ini kupikir sangat borjuis.
            Kami bercakap-cakap sebentar, lalu aku pamit untuk kembali ke hotel. Sungguh pertemuan yang sangat menarik dengan gadis bernama Faras itu. Ia berjanji akan mengajakku berkeliling kota Solo lain kali.
***
            Sudah sekitar dua minggu kuhabiskan waktuku di Solo. Dan petualaganku kali ini berbeda. Ya, dengan ditemani Faras seolah liburanku sangat berarti. Aku mendapat berbagai banyak hal yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Memang sesuatu yang berbeda. Hampir setiap hari Faras mengajakku mengunjungi tempat-tempat penampungan anak-anak jalanan. Hampir setiap hari pula Faras mengajariku menjadi seseorang berjiwa sosial. Walau kadang aku harus menunggu selesai kuliah, tapi aku senang bias menghabiskan bersamanya dan juga anak-anak jalanan yang lain. Begitu pula hari ini.
            Solo yang menyengat sudah biasa. Aku terduduk letih. Beberapa kali aku menyeruput dinginnya es campur ditemani Faras. Kali ini kami telah mengunjungi sebuah panti asuhan dan membagikan beberapa bantuan bersama teman-teman aktivis Faras lainnya. Rasa lelah nampaknya juga diraskan faras walau hal itu sudah biasa merupakan makanan sehari-harinya.
            Kami berdua terdiam sama-sama menikmati es campur. Iseng kutanyakan padanya
            “Menurutmu apa yang kau dapatkan dari semua ini? Apa kau tidak takut jika suatu hari kau tak sanggup lagi menghidupi mereka? Apa kau tak takut jika itu justru membuat mereka tak bias mandiri ?” Tanyaku.
            “Kau sendiri ? Apa kau merasakan manfaat dari petualanganmu selama ini? Perlarian dari orang tuamu, mengkhianati kepercayaanmu sendiri bahkan?” Pertanyaan Faras yang tak terduga tersebut membuatku tersentak.
            Aku hanya menggeleng. “Lalu?” Tanyaku kembali.
            Faras menghela napas panjang, dan menjawab “Aku tak ingin mencari nilai materiil dari apa yang aku lakukan. Aku hanya mencari keikhlasan dari setiap amal perbuatanku, begitu pula dengan temanku lainnya. Kalau soal hal itu akan memanjakan mereka, tentu saja aku juga sudah memikirkan itu sebelumnya. Aku tak mungkin membiayai keperluan mereka semua. Aku hanya membiayai bagi mereka yang ingin maju. Aku tak takut jika suatu hari nanti aku tak bias menghidupi mereka lagi, sebab aku tahu, masih banyak tangan-tangan dermawan yang mau mengulurkan tangannya kepada mereka”
            Kini aku mengerti. Jiwa lembut Faras yang seolah tak pernah hilang digerogoti tantangan sosial ini. Lantas aku? Aku bahkan tak pernah menemui sesuatu yang pernah berarti dalam hidupku.
            “Memangnya arti keikhlasan itu sendiri apa ?” Tanyaku begitu saja tanpa sadar.
            Faras tersenyum lembut. “Kau belum merasakannya ya? Periksa hatimu. Mungkin telah hangus terbakar riya” Jawab Faras tak kumengerti.
            Belum sempat aku lemparkan pertanyaan berikutnya, seorang gadis kumal kecil berlari kearah kami. Tubuhnya terengah-engah akibat berlari kencang. Faras yang melihatnya penasaran.
            “Ada apa Sekar?” Tanya Faras heran, begitu pula aku.
            “Mbak Faras, bagaimana ini… Si Bayu Mbak, dia tertangkap basah mencopet” Kalimat yang diucapkan gadis itu membuat kami tersentak kaget bukan main.
            “Bayu? Mencopet? Kenapa ?” Tanya Faras tak percaya. Sekar hanya menggeleng.
            Kemudian Sekar mengantarkan kami di tempat kejadian. Dari kejauhan, aku melihat kerumunan. Faras berjalan mendahului kami dan menorobos kerumunan. Aku pun berlari menyusulnya.
            Kulihat sesosok laki-laki kurus kumal itu tertunduk malu. Matanya sembab. Ada beberapa bekas lebam di pipinya. Faras yang sejak tadi berbicara dengan bapak-bapak yang kupikir ‘korban’ pencopetan itu meminta pengertian. Ia mengatakan bahwa Bayu masih di bawah umur. Lagi pula Bayu tidak mengambil sepeser uang pun dari dompet Bapak tersebut.
            “Enak saja. Maling ya tetap saja maling. Saya tetap akan melaporkan ini ke pihak yang berwajib. Kau pikir akan kubiarkan begitu saja sampah masyarakat ini, hah?” Bentak Bapak-bapak tersebut.
            Faras tak henti-hentinya meyakinkannnya. “Tapi dia masih di bawah umur. Lagi pula ini pertama kalinya dia mencuri. Saya yakin itu. Saya kenal sekali dengan anak ini.” Kata Faras seraya menunjuk Bayu.
            Bapak itu tak peduli. Ia justru akan menuntut Faras juga sebagai pertanggung jawaban. Kulihat sekilas Bayu menangis. Faras terus memohon kepada bapak tersebut dan meminta bentuk pertanggung jawaban yang lain. Bapak itu terdiam sejenak.
            “Ganti rugi!” Jawab Bapak itu.
            “Berapa?” Tanyaku kali ini ikut menengahi.
“Lima ratus ribu!” jawab bapak itu tak ragu sama sekali.
Baik aku maupun Faras tersentak. “Bapak kira ini kejahatan macam apa ? Saya bisa menuntut balik perlakuan Bapak ini!” Aku melihat Bapak itu tak peduli dan tetap pada keputusannya. Aku kembali menengahi,
“Baik. Ini. Cukupkan ?” Kataku seraya menyodorkan lima lembar seratus ribuan dari dalam dompetku. Kulihat Bapak itu setuju.
Faras tersenyum masam kepadaku, tak enak menerimanya. Aku hanya tersenyum. Keikhlasan tak bisa dinilai dari materiil bukan? Ya, kali ini aku bisa merasakannya. Indahnya suatu keikhlasan.
Tiba-tiba Bayu berlari kabur meninggalkan kami. Faras terperanjat. Aku pun langsung berlari mengejarnya. Secepat kilat kulihat tubuh Bayu menyelinap diantar kerumunan pinggir jalan. Ia berhasil keluar. Kulihat ia akan menyebrang jalan. Sial! Aku pun berlari semakin kencang dan berhasil menarik lengan Bayu. Bayu berusaha mengelak. Aku pun tak bisa menahannya hingga sebuah sedan yang sedang melaju kencang di jalanan yang renggang melintas kencang kearah kami. Kutarik lengan Bayu cepat. Dan ….
“BRAKKK” Tubuhku terlempar beberapa meter. Suara benturan keras mengoyak suasana yang ricuh.
Aku terkapar tak berdaya. Kurasakan sakit yang teramat sangat. Ada darah mengalir dari sudut kepalaku. Bumi seperti bergoyang. Keikhlasan, batinku. Kembali terngiang kalimat Faras di benakku. Ya, kali ini aku bnar-benar merasakannya. Kesejukan dari nilai keikhlasan di hatiku yang gersang.
Kulihat sekilas Faras berlari mendekatiku dengan wajah pucat. Kemuadian aku tak sanggup membuka mata. Darah yang mengalir semakin deras. Hati nuraniku memilah-milah kesedihan yang bercampur beningnya pengorbanan ini. Aku merintih pelan. Dan kini kutahu, selama ini, inilah yang kucari. Kesejukan di hatiku. Dan aku pun tak sadarkan diri.

Minggu, 29 Juli 2012

Berlapis Batu



Merah biru mengukir kisah
Kuning hijau merajut mimpi
Senja kini beranjak menyerbu
Gulita tak lagi menghempas

Sekelebat hitam membuai jiwa
Tikus uang pelahap harta
Kebutaan akan transparansi
Sebagai aksi tuk berkilah

Hanya sekedar seperempat suap
Segumpal putih sana dan sini
Merebak kasih pengganjal perut
Segelintir saja pun tak ada

Kini bayang apa yang dinati
Benang merah tak berujung
Menyeruak batin sang pemirsa
Namun tetap batu melapis jiwa

Poem's created by Adzka Fahma Rodliya

Kamis, 19 Juli 2012

Behind The Eyes



Mata itu terbuka perlahan. Beberapa orang mengerumuninya dengan perasaan cemas. Beberapa diantaranya bahkan tak sanggup meneteskan air mata. Dan mata itupun akhirnya terbuka. Pemilik mata itu adalah Dino.
            “Astaga!” Akhirnya Dino mendesis penuh kekaguman.
            Dan beberapa orang langsung tersadar. Seorang gadis kecil berjalan menghampiri Dino dengan penuh harap. Adik semata wayang Dino itupun duduk dihadapan Dino. Mengamati wajah tampan sang kakak.
            Kedua tangan dino menyentuh wajah Thea, gadis kecil tersebut, kemudian membelainya.
            “Thea, kakak....kakak bisa melihatmu”serunya, nyaris memekik.
            Semua orang di ruangan itupun ikut terharu. Sebuah kelegaan setelah operasi transplantasi kornea itu berjalan dengan lancar tak lebih dari dua jam.
            “Sekarang ini masih sangat buram. Tapi pasti akan membaik dalam beberapa hari ini. Sekarang, yang perlu kita kuatirkan cuma reaksi penolakan mata Dino terhadap donor yang diterimanya. Tapi saya sudah memberikan obat-obatan pencegah yang mudah-mudahan bermanfaat. Tinggal dipakai secara rutin saja,” jelas Dokter panjang lebar.
            Dokter itu kemudian menghampiri Dino. Lalu memakaikan pelindung mata yang sedikit mirip kacamata renang. “Nah, Dino. Jangan sampai kena air. Jangan sampai kena benda apapun. Pakai selalu google ini selama paling tidak dua minggu kedepan.”
            Sambil mengangguk mantap, Dino menatap Dokter itu penuh terima kasih. Dalam hati Dino, sebuah bara api menyala. Bara api yang selama ini terpendam dalam kebutaan Dino terhadap seseorang yang telah membuat Ia kehilangan sepasang matanya itu.
***
            “Kakaaaaaaaaak... sudah kubilang jangan kemana-mana. Mata kakak kan belum sembuh benar. Lah ini langsung minta pergi ke Jakarta. Thea kan juga masih sekolah.” Cerca Thea yang terus membuntuti kakaknya yang sama sekali tidak mendengarkannya itu.
            Dino pun langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap adiknya itu kesal. “Aku kan tidak memintamu mengantarku. Lagi pula mataku juga sudah sembuh, aku sudah tidak memakai pelindung mata itu. Dokter juga bilang  mataku sudah pulih benar. Kamu ini cerewet sekali. Sana kamu pulang saja, nanti biar aku telponkan tante Neni.” Kata Dino seraya melanjutkan langkahnya. Kali ini Ia benar-benar mantap.
            Thea hanya terdiam di tempatnya. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya terhadap kakaknya itu. Ia sangat tahu sifat keras kepala kakaknya. Tentu tidaklah mudah menghentikan niat kakaknya selain... selain... tiba-tiba Thea teringat sesuatu. Ia bisa menebak kemana kakanya itu akan pergi.
            “Apa kakak akan menemui kak Rendhi ? Apa kakak akan melakukan sesuatu terhadapnya ?” tanya Thea hati-hati.
            Dino kembali menghentikan langkahnya. Mendengar nama musuh bebuyutannya itu disebut hatinya terasa sangat marah. Sebisa mungkin Ia menahan amarahnya iu di depan adiknya. Kemudian Ia membaliknya badannya.
            “Tidak. Aku sama sekali tidak terpikirkan untuk menemuinya. Aku akan pergi menemui pelatih Nando, hey adik kecil !” Jawab Dino enteng. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Ia akan pergi menemui Rendhi.
            “Apa kakak akan bermain bola lagi?” Tanya Thea girang. Harapan yang selama ini dinantikannya mungkin akan terwujud.
            Dino hanya mengangguk kemudian langsung pergi meninggalkan Thea. Ia langsung menaiki taksi yang sudah menantinya di depan hotel. Kali ini Thea benar-benar merelakan kakanya pergi karena alasan yang diberikan adalah harapan yang selama ini dinantinya dan seluruh keluarganya.
            Sementara itu, di dalam taksi Dino terus merasa cemas. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ia memang akan meniti karirnya lagi menjadi pesepak bola profesional seperti sebelumnya. Namun kembali bayangan Rendhi muncul di hadapannya sebagai rekan satu tim. Kebencian akan orang yang telah merenggut kedua matanya serta memporak-porandakan karirnya itu, serta kebencian karena telah membuat ibunya yang rela mati demi mengorbankan sepasang mata untuknya. Hatinya kembali teremas-remas oleh amarahnya. Ia menghela nafas panjang. Ia tak boleh terbawa emosi. Setelah uji coba untuk kembali masuk ke klub selesai, mungkin ia akan menyelesaikan masalahnya dengan Rendhi yang tak pernah datang menemuinya bahkan untuk sekedar minta maaf.
            Setelah beberapa lama, taksi itu sampai di tujuan. Dino segera turun. Ia menatap bangunan besar di hadapannya. Tempat dimana dulu Ia meniti karirnya bersama tim kesebelasannya sebelum Ia kehilangan sepasang matanya. Dengan mantap, Ia masuk ke bangunan tersebut.
***
            Sebuah peluit panjang berbunyi. Dan seorang laki-laki jakung itu langsung memulai untuk mengoper bola. Di atas lapangan hijau itu, beberapa orang mengerumuninya untuk melihat aksi yang dulunya pahlawan sepak bola. Beberapa bola berhasil menjebol gawang berkat laki-laki tersebut. Ya, laki-laki itu tak lain adalah Dino. Kembali sebuah peluit panjang mengakhiri laga uji coba tersebut. Seorang pelatih menghampiri Dino sambil bertepuk tangan. Wajahnya sangat sumringah melihat penampilan Dino.
            “Ckckck, hebat sekali permainanmu Dino. Sama sekali tidak berkurang dengan sebelumnya. Bahkan kulihat ada banyak sekali peningkatan. Sulit dibayangkan bahwa kamu dulu pernah kehilangan matamu. Luar biasa.” Salut pelatih bernama Nando. Kemudian ia duduk di atas lapangan disamping Dino.
            Dino hanya tersenyum ringan. Kemudian ia meneguk air mineral hingga habis.Ia tahu benar yang telah membuat penampilannya tadi gemilang bukanlah semata wayang akan dirinya, tetapi adalah semangatnya.
            Setelah berbicara panjang dengan pelatih melepas kerinduan setelah beberapa tahun tidak bertemu, Dino pamit untuk pergi ke asrama pemain bola. Ada seseorang yang ingin Ia temui.
            Sesampainya di asrama, Ia sengaja memakai kacamata hitam yang dulu sering digunakannya. Ia bahkan memakai tongkat. Ia berjalan dengan santainya mengitari ruangan tersbut. Ada sedikit kerinduan di hatinya. Hingga pada suatu koridor, ia bertemu dengan segerombolan orang. Ia tahu benar siapa mereka. Ya, itu adalah teman-temannya ! Ia berhenti sejenak dan mengetok-ngetok tongkatnya ke lantai. Mereka langsung menyadari kehadiran Dino.
            “Dinooooo!!!!!” seru mereka nyaris bersamaan. Beberapa diantara mereka bahkan langsung memeluk Dino. Beberapa pertanyaan langsung mencerca Dino dari teman-temannya itu. Dino hanya menjawab sekenanya. Ia mencari-cari sosok Rendhi. Dan akhirnya Ia melihatnya disudut koridor hanya terdiam. Wajahnya pucat. Beberapa saat kemudian, Rendhi pergi meninggalkan teman-temannya termasuk Dino. Ia pergi tanpa mengatakan apapun. Dibenaknya, Ia masih mengira bahwa Dino buta.
            Melihat Rendhi yang pergi dan melintasinya, Dino langsung melepaskan pelukan teman-temannya.
            “Begitu melihat teman yang 2 tahun tidak kau temui, apakah itu perlakuanmu? Setelah 2 tahun kehilangan mataku, apa kau pikir aku akan diam saja ?” tanya Dino sambil menoleh dan membalikkan badan menghadap Rendhi.
            Rendhi langsung menghentikan langkahnya. Teman-teman yang mendengarnyapun tersentak. Seketika ruangan langsung hening. Perlahan, dino melepas kacamata dan melipat tongkatnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke teman-temannya, termasuk Rendhi. Kemudian Ia tersenyum.
            “Ya, aku sudah mendapatkan donor kornea dari ibuku sendiri yang beberapa bulan lalu meninggal dunia. Aku bahkan sudah melakukan ujicoba tadi dengan pelatih Nando. Dan hasilnya... aku kembali bergabung dengan tim” jelas Dino.
            Serentak temannya mengucap selamat kepada Dino, kebahagiaan akan kembalinya sang pahlawan. Sementara itu, Dino kembali menatap Rendhi. Rendhi masih terdiam dan menunduk. Wajahnya bahkan semakin pucat. Melihatnya, Dino langsung meminta teman-temannya untuk membiarkan dirinya dan Rendhi untuk berbicara berdua. Teman-temannya itupun langsung meninggalkan mereka berdua. Paham.
            Dino berjalan selangkah menghampiri Rendhi. Ia menahan perasaannya. Rendhi masih menunduk.
“Ma maafkan aku Din, sungguh aku minta maaf.. aku.. aku...” kata Rendhi terbata-bata. Tak terasa air mata meleleh dari sudut matanya.
            Dino menghela nafas, kemudian menjawab, “Setelah menghilangkan penglihatanku, setelah membuat ibuku mengorbankan nyawanya hanya demi aku, setelah membuat karirku hancur begitu saja, kau bahkan masih berpikir aku aku memaafkanmu ?!” seru Dino dengan suara tertahan. Sebisa mungkin Ia tidak meluapkan emosinya untuk memukul Rendhi.
            Rendhi terdiam. Ia mengangkat kepalanya. Air mata semakin deras. Ada kebingungan di wajahnya.
            “Apa ibumu ..” tanya Rendhi tak sanggup mengataknnya.
            Dino hanya tersenyum sinis. Batinnya semakin terkoyak. “Ya! Tapi apa yang kau lakukan sampai saat ini, Ha ?! Dengar baik-baik ya.Posisimu sebagai striker terbaik disini aku kurebut. Dan apa kau tahu, pertandingan melawan Thailand nanti, pelatih telah memintaku untuk menjadi kapten ! Sama sekali bukan kau ! Apa kau tahu apa artinya itu ? Semua kesuksesan yang kau raih diatas penderitaanku itu sedikit demi sedikit akan kuhancurkan !” Kata Dino dengan suara dikuat-kuatkan. Kemudian, Dino langsung meninggalkan Rendhi sendiri. Di ruangan itu sendiri, dengan perasaan hancur lebur.
***
            Seperti apa yang dikatakan Dino, petaka itu benar-benar datang kepada Rendhi ! Posisi terdepan striker kini dipegang oleh Dino. Dan bukan hanya itu, selama beberapa pertandingan, Rendhi yang biasanya paling banyak mencetak gol, kini sama sekali tidak menghasilkannya. Setiap bola yang digiring oleh Rendhi dengan mudahnya direbut oleh Dino. Rendhi yang selama ini digandrungi oleh teman-temannya pun kini satu persatu beralih ke Dino. Berbagai infotaiment pun mengbarkan kegemilangan Rendhi yang selama ini Ia capai telah jatuh ke tangan Dino, pemain yang dulu berjaya.
            Mau tak mau, berita itupun terdengar ke pelatih Nando. Ia dapat mencium bau permusuhan antara Dino dan Rendhi. Pagi itu juga, Ia langsung memanggil Dino keruangannya.
            “Mengapa kamu melakukan ini terhadap Rendhi ? Kenapa kamu tidak mau mengoper bola sekalipun kepadanya ? kenapa kau tidak pernah memberikannya kesempatan untuk menggiring bola? Kamu pikir pertandingan itu milikmu?” Cerca Pelatih Nando dengan sengit. Ia tidak mengharapkan ada permusuhan di klub asuhannya itu.
            “Tidak ada. Sama sekali tidak ada yang terjadi dengan kami. Aku hanya memberikannya sedikit pelajaran kepadanya.” Jawab Dino enteng.
            Pelatih Nando menghela nafas panjang. Sangatlah susah memadamkan dendam yang sudah membatu selama 2 tahun itu. “Itu adalah kecelakaan Dino.Bagaimana pun Rendhi tidak bersalah meskipun Ia yang menggoncengkanmu. Bukankah polisi juga mengatakan itu adalah kecelakaan?” Pelatih Nando sebisa mungkin memberikan penjelasan.
            “Kecelakaan kata bapak? Jika saja waktu itu Rendhi tidak memaksaku untuk pergi, aku tidak akan kehilangan sepasang mataku. Ibuku juga tidak akan kehilangan nyawanya demi aku !” Bentak Dino. Amarah di hatinya tak tertahankan.
            Pelatih Nando kembali menghela nafas. Kali ini, ia akan mengatakan sebenar-benarnya.
“Apa kau tahu, 2 tahun lalu Rendhi berusahan akan bunuh diri? Apa kau tahu betapa putus asanya Rendhi begitu mendengar kamu kehilangan penglihatan? Ia berusaha meyakinkanku untuk tidak mengeluarkanmu dari tim. Ia rela keluar dari tim jika itu akan membuatmu puas. Tapi kenyataannya, dia tidak bisa keluar begitu saja, karena waktu itu dia adalah tulang punggung keluarganya. Ayahnya yang sakit-sakitan dan Ibunya yang telah meninggal dunia, dan ketiga adiknya yang masih harus bersekolah, apa kau tidak tahu itu?” Jelas Pelatih Nando.
Dino hanya terdiam. Tak disangka ada sebuah kenyataan dibalik semua.
“Tapi, setidaknya ia meminta maaf kepadaku? Setidaknya dia memohon kepada ibuku untuk tidak melakukan semua ini!” Sengit Dino.
Pelatih Nando menatap Dino dalam. Ia tahu bahwa selama ini Dino hanya menelan api kesalah pahaman. “Dia sudah melakukannya. Berkali-kali. Tapi Ibumu tidak pernah mengijinkannya. Ibumu tahu apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengannya. Dan juga... Ibumu tidak meninggal dengan mengorbankan nyawanya begitu saja, dia meninggal karena penyakit Dino..” lirih Pelatih Nando.
“Ibu sakit juga karena dirinya! Ibu sakit karena tidak kuat melihat penderitaanku!” pekik Dino.
“Anakku, kamu tidak boleh menyalahkan takdir hanya karena perasaan dendam. Aku tahu benar bagaimana penderitaanmu atas kehilangan sepasang mata dan ibumu. Tapi kau harus tahu, kau tidak boleh menyalahkan Rendhi. Jika kau menyalahkan oranglain atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka tak ada bedanya kau ini dengan pecundang”
“Dengar baik-baik. Mulai sekarang, aku tidak ingin mendengar kalian berdua bermusuhan. Kau juga tidak boleh egois terhadapnya. Jika saja waktu itu kau mau bekerja sama dengan Rendhi, mungkin kalian berdua akan menjadi mesin pencetak gol sepanjang masa. Lagi pula, ini bukanlah permainanmu. Ini adalah permainan kita semua. Kita bermain bukan untuk mendapat ketenaran. Kita bermain untuk Sang Garuda. Bagaimanpun perasaanmu terhadap seseorang, kau tidak boleh menyangkutkan itu dalam sepak bola” Jelas Pelatih Nando panjang lebar.
Dino hanya terdiam. Dalam hatinya gerimis perlahan menyirami api dendam yang selama ini menyala. Dari lubuk hatinya, ia juga tidak ingin mencari musuh dengan teman-temannya. Kali ini ia sadar. Setetes demi setetes air mata meleleh dari sudut matanya. Benar, Ia telah mempermalukan nama Garuda demi kebencian di hatinya.
            Ia berjanji dalam hati. Ia akan meminta maaf kepada semuanya. Ibunya, teman-temannya, Rendhi, dan yang paling penting, Sang Garuda.



Cerpen tema nasionalisme *tugas MOS* hehe

Selasa, 03 Juli 2012

Reason Why...


Profesor: Anda adalah seorang Muslim, bukan, Nak?

Siswa: Ya, Pak.

Prof: Jadi, Anda percaya pada ALLAH?

...
Siswa: Tentu saja, Pak.

Prof: Apakah Tuhan baik?

Siswa: Tentu.

Prof: Apakah Tuhan mahakuasa?

Siswa: Ya.

Prof: Saudaraku meninggal karena kanker meskipun dia berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Kebanyakan dari kita akan mencoba untuk membantu orang lain yang sakit. Tapi Tuhan tidak. Bagaimana Tuhan ini baik itu? Hmm?

(Mahasiswa diam.)

Profesor: Anda tidak dapat menjawab, bukan? Mari kita mulai lagi, anak muda. Apakah Tuhan baik?

Siswa: Ya.

Prof: Apakah setan baik?

Siswa: Tidak.

Prof: mana setan berasal?

Siswa: Dari ... Tuhan ...

Prof: Itu benar. Katakan padaku anak, apakah ada kejahatan di dunia ini?

Siswa: Ya.

Prof: Kejahatan di mana-mana, bukan? Dan ALLAH memang membuat segalanya. Benar?

Siswa: Ya.

Prof: Jadi siapa yang menciptakan kejahatan?

(Siswa tidak menjawab.)

Prof: Apakah ada penyakit? Imoralitas? Kebencian? Keburukan? Semua hal yang mengerikan ada di dunia, bukan?

Siswa: Ya, Pak.

Prof: Jadi, siapa yang menciptakan mereka?

(Mahasiswa tidak memiliki jawaban.)

Prof: Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Anda memiliki 5 Senses Anda gunakan untuk mengidentifikasi dan mengamati dunia di sekitar Anda. Katakan padaku, anak, apakah Anda pernah melihat ALLAH?

Siswa: Tidak, Pak.

Profesor: Beritahu kami jika Anda pernah mendengar Tuhan mu?

Siswa: Tidak, Pak.

Prof: Apakah Anda pernah merasa Tuhan mu, mencicipi Tuhan mu, mencium Tuhan mu? Apakah Anda pernah memiliki persepsi indrawi Tuhan dalam hal ini?

Siswa: Tidak, Pak. Sayangnya aku belum.

Profesor: Namun Anda masih percaya kepadaNya?

Siswa: Ya.

Prof: Menurut empiris, Protokol yang dapat didemonstrasikan, sains menyatakan bahwa Tuhanmu tidak ada. Apa yang Anda katakan itu, nak?

Siswa: Tidak ada. Saya hanya memiliki iman saya.

Prof: Ya, iman. Dan itu adalah masalah Ilmu memiliki.

Siswa: Professor, apakah ada yang namanya panas?

Prof: Ya.

Siswa: Dan apakah ada yang namanya dingin?

Prof: Ya.

Siswa: Tidak, Pak. Tidak ada.

(Teater kuliah menjadi sangat tenang dengan keadaan ini.)

Siswa: Pak, Anda dapat memiliki banyak panas, bahkan lebih panas, sangat panas, begitu panas, panas putih, sedikit panas atau tidak panas. Tapi kita tidak memiliki sesuatu yang disebut dingin. Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol yang tidak panas, tetapi kita tidak bisa pergi lebih jauh setelah itu. Tidak ada yang namanya dingin. Dingin hanyalah SEBUAH KATA yang kita gunakan untuk mendeskripsikan ketiadaan panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah kebalikan dari panas, Pak, hanya tidak adanya itu.

(Ada pin-drop keheningan di ruang kuliah.)

Siswa: Bagaimana dengan kegelapan prof? Apakah ada yang namanya kegelapan?

Prof: Ya. Apakah malam itu jika tidak ada kegelapan?

Siswa: Anda salah lagi, Pak. Kegelapan adalah tidak adanya sesuatu. Anda dapat memiliki cahaya rendah, cahaya normal, cahaya terang, cahaya berkedip. Tapi jika Anda memiliki cahaya tidak terus-menerus, Anda memiliki apa-apa dan kegelapan disebut nya, bukan? Pada kenyataannya, kegelapan tidak. Jika ya, kau akan mampu membuat lebih gelap kegelapan, bukan?

Prof: Jadi apa gunanya Anda membuat, anak muda?

Siswa: Pak, poin saya adalah premis filosofis Anda adalah cacat.

Prof: yang cacat? Bisakah Anda menjelaskan bagaimana?

Siswa: Pak, Anda bekerja pada premis dualitas. Anda berpendapat ada kehidupan dan kemudian ada kematian, Tuhan yang baik dan Tuhan jahat. Anda melihat konsep Tuhan sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat diukur. pak, bahkan ilmu pengetahuan tidak bisa menjelaskan pikiran. Itu menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah melihat, apalagi sepenuhnya dipahami baik satu. Untuk melihat kematian sebagai lawan kehidupan adalah pengabaian fakta bahwa kematian tidak dapat eksis sebagai hal yang substantif.

Kematian bukanlah lawan dari kehidupan: hanya tidak adanya itu. Sekarang katakan, Profesor, apakah anda mengajar mahasiswa bahwa mereka berevolusi dari kera?

Prof: Jika anda mengacu pada proses evolusi alami, ya, tentu saja, saya lakukan.

Siswa: Apakah Anda pernah mengamati evolusi dengan mata anda sendiri, Pak?

(Profesor menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, mulai menyadari di mana argumen yang terjadi.)

Siswa: Karena tidak seorang pun pernah mengamati berlangsungnya proses evolusi dan bahkan tidak dapat membuktikan proses ini sebagai upaya-going. Bukankah anda sedang mengajarkan opini anda, pak? Apakah anda bukan ilmuwan tapi pengkhotbah?

(Kelas itu gempar.)

Siswa: Apakah ada orang di kelas ini yang pernah melihat otak Profesor?

(Kelas pecah menjadi tawa.)

Siswa: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tidak seorang pun telah melakukannya. Jadi, menurut Peraturan mapan empiris, Protokol Stabil, didemonstrasikan, sains mengatakan bahwa Anda tidak memiliki otak, pak. Dengan segala hormat, Pak, bagaimana kita kemudian percaya kuliah Anda, Pak?

(Ruangan itu hening Profesor menatap siswa, wajahnya tak terduga..)

Profesor: Saya kira Anda harus membawa mereka pada iman, Nak.

Siswa: Itu itu Sir ... Tepat! Hubungan antara manusia & Tuhan adalah KEYAKINAN. Itu saja yang membuat hal hidup dan bergerak.

P.S.

Saya percaya Anda telah menikmati percakapan. Dan jika demikian, Anda mungkin ingin teman / kolega untuk menikmati yang sama, bukan?

Minggu, 10 Juni 2012

Across The Sea

Swim never drawned
Dive never floated
Don't try but force
Cause it emerges for not the trivial one
Cause it's occured for not the question


In a hurry in a mess
Never know across the sea
Mind just think about treasure
Mind just think about sparkling gold


A cross the sea is not the destination
A way to sea is the golden one
The gold behind the hard work
For not being idle.


Friday, May 18th 2012
11.04 am
SMAN 1 Surakarta's mosque

Selasa, 15 Mei 2012

F A M I L Y (my poem)


Iseng2 buat puisi ahaha, just enjoys guys !
F  : Friends for along life

A  : Amazing for standing beside you

M : Miss it when you dissapear

I   : It's awesome for having you with me

L  : Live is ouch without you

Y  : Yes, you're the best thing that I ever had !

*WATCH OUT ! I'm the creator of this poem, so don't try to 'copas' it without my permission !*

Sabtu, 03 Desember 2011

Setetes Embun di Hati Niluh


Sebuah patung tinggi besar berdiri kokoh seolah tak peduli tercabik-cabik ganasnya mentari. Gumpalan asap kendaraan menambah nyanyian khas tengah kota. Beberapa kendaraan yang keras kepala pun ikut memadati dan menciptakan bunyi sumbang di udara. Aroma kota tengah hari bagaikan neraka versi tangan manusia. Kembali kubenahi letak topiku. Keringat sebesar biji jagung tak henti-hentinya mengucur di permukaan tubuhku. Beberapa lembar tisu tak sanggup menyeka keringat yang semakin membanjir di tubuhku. Aku tak peduli.
            Kembali kuabadikan sonata kota Solo yang membara. Rumah-rumah kumuh tak luput dari jepretan kameraku. Gedung-gedung bergaya aristokat nan kapitalis sedikit kuabaikan. Di tanah kelahiranku bangunan seperti itu sudah biasa menjejali setiap kawasan pariwisata, Ya sebut saja Pulau Dewata. Hanya bedanya tak ada bangunan yang melebihi tempat peribadatan Pure, demi suatu penghormatan kami.
            Untuk kesekian kalinya kameraku tak henti-hentinya membidikkan sasaran gambar. Kini, kuedarkan pandangan di sekitarku. Rasanya telah cukup memadati memori klis kameraku. Kurebahkan tubuh penatku di sebuah tangga di pinggir jalan. Lelah sekali rasanya sejak tadi berkonsentrasi mengambil gambar. Kurenggangkan jemariku. Sejak tadi ia menari-nari di atas tombol pengambil gambar.
            Sesosok bocah kecil berpakaian lusuh menarik perhatianku. Sebuah kaleng peot dikalungkan di lehernya. Beberapa orang yang melintas di hadapannya memasukkan uang receh ke dalamnya. Suatu pemandangan ganjil yang jarang kutemui di Bali meski tidak sulit menemui pengemis di kotaku, namun setidaknya di Bali masih sedikit ‘layak’ dalam parameter status sosial. Kubiarkan ia berjalan ke arahku. Aku ingin melakukan hal yang sama terhadapnya dan memberinya sedikit pertanyaan. Namun belum sempat ia menghampiriku, tiba-tiba seseorang menariknya. Seorang gadis berjilbab menarik lengannya dan memelototinya. Aku tersentak. Gadis itu memarahi bocah kecil pengemis tersebut. Yang membuatku heran adalah siapa sosok gadis itu. Penampilannya jauh berbeda dengan bocah pengemis yang lusuh. Gadis itu bahkan mengenakan busana yang kupikir termasuk kalangan atas. Sesaat kupikir ia bermaksud melarang bocah itu mengemis di area perbelanjaan ini. Tapi apa hak nya ? Begitu pula dengan orang-orang di sekita sini. Tak ada yang menghiraukan mereka beradu mulut. Hal itu mendorong diriku menghampiri mereka.
            “Bukankah sudah kubilang jangan pernah melakukan hal memalukan ini lagi?” Tanya gadis berjilbab tersebut begitu aku mendekat. Bocah tersebut hanya diam menunduk, membuatku semakin ingin membelanya.
            “Hey, apa-apaan kau ! Sudah merasa lebih hebat dari bocah ini hah ?! Jangan berlagak ya nona. Mentang-mentang kau lebih mampu darinya lantas kau menghinanya ? Dia bahkan lebih baik dari pada parasit sepeti kau yang bisanya merengek ke orang tuamu ! cepat lepaskan dia, hey kurang ajar !” Bentakku pada gadis berjilbab itu.
            Baik gadis berjilbab itu maupun bocah tersebut malah menatapku heran dan mengerutkan kening. Kupikir bocah itu akan memihakku, namun justru sebaliknya. Ia semakin ketakutan.
            “Maaf, kamu ini siapa ? Kami tidak punya urusan denganmu ya, nona” Tanya gadis itu tak mengacuhkanku.
            “Ya memang aku tak punya urusan dengan mu. Tapi jika kau berani melarangnya mencari uang di sini, itu termasuk urusanku” Jawabku tak mau kalah.
            Gadis itu nampak semakin heran melihatku, mungkin saja baru pertama kali ada orang yang menentangnya sepertiku.
            “Maaf ya mbak, tapi ini memang tanggung jawab saya melarangnya melakukan hal memalukan ini mbak” Ujar gadis itu semakin membuatku kesal.
            “Kau pikir, kau yang punya tempat ini sehingga merasa punya hak melarangnya?” Tanyaku sengit.
            Beberapa orang tadinya tak menghiraukan kami kini malah mengerumuni kami. Aku merasa di atas angin. Kalau begini kan jelas siapa yang salah.
            Gadis itu tersenyum lembut, suaranya melunak “Maaf ya kalau Mbak salah sangka. Tapi yang jelas saya bukan maksud apa-apa. Saya ini cuman melaksanakan kewajiban saya. Adik ini, sayalah yang merawatnya. Saya juga yang bertanggung jawab terhadapnya. Jadi jika yang ia lakukan tadi adalah kesalahan, maka saya wajib mengingatkan sebagai bentuk tanggung jawab saya, sekaligus yang merawat Adik ini” Penjelasannya yang tutur perlahan membuka arah pikiranku yang tadi memanas. Amarah yang tadi berkobar-kobar berganti menjadi rasa malu yang amat sangat. Orang-orang yang baru berkerumun langsung mengerti begitu mendengar penjelasan gadis berjilbab itu.
            Aku hanya terdiam malu.Sungguh rasanya benar-benar bodoh. Kulemparkan senyum masam padanya. Nampaknya gadis itu pun mengerti. Ia bahkan menjulurkan tangannya dan menyalamiku. Wajah putih bersihnya memberi senyum pengertian kepada kami semua.
            Kerumunan perlahan bubar. Aku merasa tidak enak ikut meninggalkan merekatanpa pamit begitu saja, apalagi kepada gadis tersebut.            Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Faras. Rupanya memang seorang aktivis jalanan. Walau sebenarnya ia tak bergabung dalam LSM mana pun, namun ia sering membantu para anak-anak gelandangan, pengamen, pengemis. Suatu hal yang tak pernah kukenal sebelumnya dalam kehidupan pergaulanku yang selama ini kupikir sangat borjuis.
            Kami bercakap-cakap sebentar, lalu aku pamit untuk kembali ke hotel. Sungguh pertemuan yang sangat menarik dengan gadis bernama Faras itu. Ia berjanji akan mengajakku berkeliling kota Solo lain kali.
***
            Sudah sekitar dua minggu kuhabiskan waktuku di Solo. Dan petualaganku kali ini berbeda. Ya, dengan ditemani Faras seolah liburanku sangat berarti. Aku mendapat berbagai banyak hal yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Memang sesuatu yang berbeda. Hampir setiap hari Faras mengajakku mengunjungi tempat-tempat penampungan anak-anak jalanan. Hampir setiap hari pula Faras mengajariku menjadi seseorang berjiwa sosial. Walau kadang aku harus menunggu selesai kuliah, tapi aku senang bias menghabiskan bersamanya dan juga anak-anak jalanan yang lain. Begitu pula hari ini.
            Solo yang menyengat sudah biasa. Aku terduduk letih. Beberapa kali aku menyeruput dinginnya es campur ditemani Faras. Kali ini kami telah mengunjungi sebuah panti asuhan dan membagikan beberapa bantuan bersama teman-teman aktivis Faras lainnya. Rasa lelah nampaknya juga diraskan faras walau hal itu sudah biasa merupakan makanan sehari-harinya.
            Kami berdua terdiam sama-sama menikmati es campur. Iseng kutanyakan padanya
            “Menurutmu apa yang kau dapatkan dari semua ini? Apa kau tidak takut jika suatu hari kau tak sanggup lagi menghidupi mereka? Apa kau tak takut jika itu justru membuat mereka tak bias mandiri ?” Tanyaku.
            “Kau sendiri ? Apa kau merasakan manfaat dari petualanganmu selama ini? Perlarian dari orang tuamu, mengkhianati kepercayaanmu sendiri bahkan?” Pertanyaan Faras yang tak terduga tersebut membuatku tersentak.
            Aku hanya menggeleng. “Lalu?” Tanyaku kembali.
            Faras menghela napas panjang, dan menjawab “Aku tak ingin mencari nilai materiil dari apa yang aku lakukan. Aku hanya mencari keikhlasan dari setiap amal perbuatanku, begitu pula dengan temanku lainnya. Kalau soal hal itu akan memanjakan mereka, tentu saja aku juga sudah memikirkan itu sebelumnya. Aku tak mungkin membiayai keperluan mereka semua. Aku hanya membiayai bagi mereka yang ingin maju. Aku tak takut jika suatu hari nanti aku tak bias menghidupi mereka lagi, sebab aku tahu, masih banyak tangan-tangan dermawan yang mau mengulurkan tangannya kepada mereka”
            Kini aku mengerti. Jiwa lembut Faras yang seolah tak pernah hilang digerogoti tantangan sosial ini. Lantas aku? Aku bahkan tak pernah menemui sesuatu yang pernah berarti dalam hidupku.
            “Memangnya arti keikhlasan itu sendiri apa ?” Tanyaku begitu saja tanpa sadar.
            Faras tersenyum lembut. “Kau belum merasakannya ya? Periksa hatimu. Mungkin telah hangus terbakar riya” Jawab Faras tak kumengerti.
            Belum sempat aku lemparkan pertanyaan berikutnya, seorang gadis kumal kecil berlari kearah kami. Tubuhnya terengah-engah akibat berlari kencang. Faras yang melihatnya penasaran.
            “Ada apa Sekar?” Tanya Faras heran, begitu pula aku.
            “Mbak Faras, bagaimana ini… Si Bayu Mbak, dia tertangkap basah mencopet” Kalimat yang diucapkan gadis itu membuat kami tersentak kaget bukan main.
            “Bayu? Mencopet? Kenapa ?” Tanya Faras tak percaya. Sekar hanya menggeleng.
            Kemudian Sekar mengantarkan kami di tempat kejadian. Dari kejauhan, aku melihat kerumunan. Faras berjalan mendahului kami dan menorobos kerumunan. Aku pun berlari menyusulnya.
            Kulihat sesosok laki-laki kurus kumal itu tertunduk malu. Matanya sembab. Ada beberapa bekas lebam di pipinya. Faras yang sejak tadi berbicara dengan bapak-bapak yang kupikir ‘korban’ pencopetan itu meminta pengertian. Ia mengatakan bahwa Bayu masih di bawah umur. Lagi pula Bayu tidak mengambil sepeser uang pun dari dompet Bapak tersebut.
            “Enak saja. Maling ya tetap saja maling. Saya tetap akan melaporkan ini ke pihak yang berwajib. Kau pikir akan kubiarkan begitu saja sampah masyarakat ini, hah?” Bentak Bapak-bapak tersebut.
            Faras tak henti-hentinya meyakinkannnya. “Tapi dia masih di bawah umur. Lagi pula ini pertama kalinya dia mencuri. Saya yakin itu. Saya kenal sekali dengan anak ini.” Kata Faras seraya menunjuk Bayu.
            Bapak itu tak peduli. Ia justru akan menuntut Faras juga sebagai pertanggung jawaban. Kulihat sekilas Bayu menangis. Faras terus memohon kepada bapak tersebut dan meminta bentuk pertanggung jawaban yang lain. Bapak itu terdiam sejenak.
            “Ganti rugi!” Jawab Bapak itu.
            “Berapa?” Tanyaku kali ini ikut menengahi.
“Lima ratus ribu!” jawab bapak itu tak ragu sama sekali.
Baik aku maupun Faras tersentak. “Bapak kira ini kejahatan macam apa ? Saya bisa menuntut balik perlakuan Bapak ini!” Aku melihat Bapak itu tak peduli dan tetap pada keputusannya. Aku kembali menengahi,
“Baik. Ini. Cukupkan ?” Kataku seraya menyodorkan lima lembar seratus ribuan dari dalam dompetku. Kulihat Bapak itu setuju.
Faras tersenyum masam kepadaku, tak enak menerimanya. Aku hanya tersenyum. Keikhlasan tak bisa dinilai dari materiil bukan? Ya, kali ini aku bisa merasakannya. Indahnya suatu keikhlasan.
Tiba-tiba Bayu berlari kabur meninggalkan kami. Faras terperanjat. Aku pun langsung berlari mengejarnya. Secepat kilat kulihat tubuh Bayu menyelinap diantar kerumunan pinggir jalan. Ia berhasil keluar. Kulihat ia akan menyebrang jalan. Sial! Aku pun berlari semakin kencang dan berhasil menarik lengan Bayu. Bayu berusaha mengelak. Aku pun tak bisa menahannya hingga sebuah sedan yang sedang melaju kencang di jalanan yang renggang melintas kencang kearah kami. Kutarik lengan Bayu cepat. Dan ….
“BRAKKK” Tubuhku terlempar beberapa meter. Suara benturan keras mengoyak suasana yang ricuh.
Aku terkapar tak berdaya. Kurasakan sakit yang teramat sangat. Ada darah mengalir dari sudut kepalaku. Bumi seperti bergoyang. Keikhlasan, batinku. Kembali terngiang kalimat Faras di benakku. Ya, kali ini aku bnar-benar merasakannya. Kesejukan dari nilai keikhlasan di hatiku yang gersang.
Kulihat sekilas Faras berlari mendekatiku dengan wajah pucat. Kemuadian aku tak sanggup membuka mata. Darah yang mengalir semakin deras. Hati nuraniku memilah-milah kesedihan yang bercampur beningnya pengorbanan ini. Aku merintih pelan. Dan kini kutahu, selama ini, inilah yang kucari. Kesejukan di hatiku. Dan aku pun tak sadarkan diri.